Kamis, 28 Agustus 2014

Karya Ilmiah senjata tradisional tenganan pegringsingan,






 



Disusun Oleh :
Kelompok 11
Ketua          : Ihsan ‘Abdul Jaliil
Moderator : Ni Putu Wisma Ekawati
Penyaji        : Raudatul Agvazahira
Anggota      :
1.     Eka Anggraini
2.     Trikdino Dasril
3.     Rada Yulianarti
4.     Frenky Prasetia
5.     Tabah Rizki
6.     Zaki Vernando
7.     Ni Putu Ayu Mariana
8.     Ni Wayan Dinda Widasuari
Pendamping         : Ernatip


Jejak Tradisi Nasional 2014
Denpasar, Bali 25-29 Agustus 2014


KATA PENGANTAR
            Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan laporan ini tepat pada waktunya,  juga kami menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada kedua orang tua, dimana atas asuhan dan didikan serta perhatian keduanyalah kami dapat menyelesaikan laporan yang berjudul “Fungsi dan Proses Pembuatan Senjata Tradisional di Desa Tenganan Pegringsingan”
Laporan ini dibuat untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti kegiatan Jejak Tradisi Nasional. Dalam penyusunan karya ilmiah ini kami menyadari masih banyak kekurangan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi kesempurnaan.
            Dalam pelaksanaan penyusunan laporan  ini kami banyak mendapatkan bantuan dan bimbingan baik moral maupun material dari berbagi pihak. Untuk itu melalui ini penulis menyampaikan terimakasih kepada :
1.    Ketua Pelaksana kegiatan Jejak Tradisi Nasional...
2.    Ibu Ernatip sebagai pendamping dari BPNB Padang
3.    Keluarga Bapak I Wayan Made Pande sebagai narasumber di Desa Tengganan Pegringsingan

Kami menyadari dalm penyusunan ini belum dapat disajikan secara sempurna. Oleh karena itu kami membutuhkan masukan dan kritik yang konstruktif dari pembaca guna koreksi bagi kami agar penulisan karya tulis bisa lebih baik dimasa yang akan datang.
Akhir kata, kami ucapkan terimakasih dan mohon maaf apabila makalah ini banyak kekurangannya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

                                                                                                Denpasar, 27 Agustus 2014


                                                                                                             Penyusun

DAFTAR ISI
Kata Pengantar .........................................................................................................  i
Daftar Isi .................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................
A.    Latar Belakang.............................................................................................. 1
B.     Tujuan Penelitian........................................................................................... 1
C.     Ruang Lingkup............................................................................................. 2
D.    Metode Penelitian......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................................
A.    Gambaran Umum ..........................................................................................3
B.     Senjata............................................................................................................5
a)      Sejarah Senjata.........................................................................................5
b)      Alat dan Bahan.........................................................................................6
c)      Proses Pembuatan....................................................................................10
d)     Jenis-jenis Senjata....................................................................................11
C.     Fungsi Senjata................................................................................................12
D.    Perubahan Teknik Pembuatan dan Pemanfaatan Budaya..............................12
BAB III PENUTUP...................................................................................................
A.    Kesimpulan ....................................................................................................14
B.     Saran...............................................................................................................14
Daftar Informan..........................................................................................................iii
Biodata Tim................................................................................................................iv
 
BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Setiap daerah yang tersebar di Indonesia memiliki sebuah ciri khas sebagai identitas daerah masing-masing. Salah satu jenis ciri khasnya adalah senjata. Senjata secara sederhana dimaknai sebagai peralatan yang digunakan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari, misalnya untuk mengolah lahan dan lainya. Selain itu, senjata juga digunakan untuk melindungi diri/kelompok dari serangan yang datang dari luar seperti adanya peperangan dan sebagainya. Senjata itu digunakan untuk berbagai kepentingan namun tidak boleh asal digunakan, sebab apabila salah menggunakannya, senjata dapat melukai dan bahkan menghilangkan nyawa seseorang dan banyak lagi akibat yang ditimbulkan apabila salah dalam menggunakan senjata. Senjata dapat digunakan untuk menyerang maupun untuk mempertahankan diri, mengancam dan juga untuk melindungi. Apapun yang dapat digunakan untuk merusak (bahkan psikologi dan tubuh manusia) dapat dikatakan senjata.
Pada pembahasan selanjutnya, kami akan membahas mengenai senjata tradisional yang ada di Desa Adat Tenganan Pegringsingan. Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari Bapak Kepala Desa Tenganan Pegringsingan, desa ini merupakan desa yang kebudayaannya masih alami dan tanpa alkuturasi. Hal ini dapat dibuktikan dari masyarakat Tenganan yang masih menganut hukum bali kuno, bangunan rumah yang masih tradisional, dan kehidupan sehari-hari yang masih berpatokan kepada kebiasaan nenek moyang mereka. Mereka juga tidak melupakan benda yang masih dipergunakan dari dulu sampai sekarang, seperti senjata tradisional. Senjata tradisional adalah produk budaya yang lekat hubungannya dengan suatu masyarakat. Selain berguna untuk melindungi diri dari serangan musuh, senjata tradisional juga digunakan untuk berladang dan berburu, dan yang paling penting adalah senjata tradisional sekarang menjadi identitas suatu bangsa yang turut memperkaya khazanah nusantara.
Pada zaman dahulu, biasanya senjata dipergunakan untuk berperang. Walaupun sekarang sudah tidak ada peperangan lagi, bukan berarti senjata juga hilang seiring hilangnya peperangan. Pada zaman sekarang senjata sudah ber-alih fungsi sebagai pelengkap pakaian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tenganan dan sebagai penunjang kehidupan sehari-hari. Berikut adalah beberapa senjata yang masih memiliki andil dalam kehidupan masyarakat Tenganan Pegringsingan dari dulu sampai sekarang, seperti gandering, kadutan, golok, arit, dan tiuk cenik( pisau kecil).
Sebagai realisasi kepedulian masyarakat Tenganan akan kebudayaannya, mereka mendatangkan seorang pandai besi dari luar Desa Tenganan untuk memproduksi senjata-senjata yang masih diperlukan sampai sekarang.
Begitu pentingnya keberadaan senjata dalam kehidupan masyarakat Tenganan dari dulu sampai sekarang, maka dari itulah kami merasa tertantang untuk menguak beberapa aspek mengenai senjata tradisional desa ini.

  1. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian dari laporan ini adalah untuk mempublikasikan mengenai beberapa aspek yang menyangkut senjata tradisional yang ada di Desa Tengganan Pegrinsingan. Bukan hanya sebagai benda untuk melukai, mempertahankan atau melindungi saja. Akan tetapi, senjata tradisional Desa Tenganan juga merupakan sebuah benda yang sangat penting keberadaannya dan  bisa bersinergi dengan kebudayaan desa dalam memperjelas identitas sebuah desa dengan kegunaan dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Selain itu, penelitian ini  juga bertujuan untuk menambah koleksi pengetahuan pembaca mengenai senjata tradisional yang ada di daerah Bali, khususnya di Desa Tenganan Pegringsingan.


  1. Ruang Lingkup
            Dalam laporan kami ini, kami akan membahas mengenai sejarah senjata, jenis senjata, alat dan bahan pembuatan senjata, dan fungsi senjata yang ada di Desa Tenganan Pegringsingan.
  1. Metode Penelitian
Metode yang kami gunakan dalam penelitian ini mengandung prinsip empirisme yang di dapat dari observasi lapangan dengan penduduk setempat dan dengan mengambil beberapa referensi dari internet.
















BAB II
PEMBAHASAN

  1. Gambaran Umum
Jika anda berkunjung ke daerah Bali, maka anda akan terkesima dengan keranekaragaman budaya yang ada di daerah ini. Salah satu contohnya, masyarakat di Bali itu terbagi menjadi dua golongan yaitu masyarakat Bali modern (Bali dataran) dan masyarakat Bali asli (Bali aga). Masyarakat Bali modern merupakan masyarakat Bali yang mengalami akulturasi budaya. Masyarakat ini sebagian besar bertempat tinggal di daerah perkotaan seperti Denpasar, Singaraja, Negara, Klungkung, dan lain-lain. Sedangkan masyarakat Bali aga adalah masyarakat asli daerah Bali yang tidak mengalami akulturasi budaya dan terus mempertahankan tradisi secara turun-temurun tanpa ada perubahan.
Di daerah Bali ada beberapa desa yang termasuk ke dalam golongan Desa Bali aga. Sebagai contohnya, desa yang pertama yaitu Desa Trunyan. Jika lebih senang berpetualang, maka kita bisa mengunjungi Desa Trunyan di Kintamani, Kabupaten Bangli. Untuk mencapai desa ini, kita harus naik perahu menuju Trunyan dengan menyeberangi Danau Batur. Selanjutnya yaitu Desa Panglipuran. Desa ini terletak di Kabupaten Bangli, dan untuk mencapai desa ini kita perlu menempuh perjalanan sekitar 1 jam dari Ubud, Kabupaten Gianyar. Contoh lainnya adalah Desa Tenganan. Desa ini tidak kalah terkenalnya jika dibandingkan dengan Desa Trunyan dan Desa Panglipuran. Desa ini terletak di Kabupaten Karangasem, sangat dekat dengan Pantai Candi Dasa. Perjalanan menuju desa ini sangat mudah dan bisa ditempuh sekitar 1,5 jam dari selatan daerah Bali. 

Salah satu desa yang menarik perhatian adalah Desa Tenganan Pegringsingan. Desa ini terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem disebelah timur Pulau Bali. Tenganan bisa dicapai dari tempat pariwisata Candi Dasa dan letaknya kira-kira 10 kilometer dari sana.
Di Desa Tenganan, masyarakatnya masih sangat kental dengan tradisinya seperti tradisi menenun, menganyam, menulis daun lontar, melukis, seni ukir dan pembuatan senjata.
Salah satu keunikan yang terdapat pada desa ini yaitu dalam  pembuatan senjata tradisionalnya. Di Desa Tenganan ini, senjata tradisionalnya dibuat oleh seorang pandai besi yang disebut dengan pande besi. Pande besi tersebut hanya ada satu di desa ini. Pande besi itu pun didatangkan dari desa lain yaitu Desa Tunggak Bebandem.
Beberapa contoh dari senjata tradisonal daerah ini yaitu gandering dan kadutan. Gandering merupakan pelengkap dalam melakukan sangkep1. Sedangkan kadutan merupakan senjata yang dipergunakan oleh laki-laki yang akan menikah.
Adapun sanksi yang akan dikenakan kepada seseorang oleh masyarakat desa apabila ia tidak membawa senjata gendering pada saat sangkep adalah dia tidak boleh mengikuti rapat dan tidak boleh muncul  ditengah masyarakat pada hari itu.

  1. Senjata
a.    Sejarah Senjata
Pada awalnya, senjata merupakan alat yang digunakan untuk membela diri bagi kaum laki-laki di Desa Tenganan Pegringsingan. Umumnya Desa Tenganan ini memiliki berbagai jenis senjata, diantaranya; Keris, Golok, Pedang, arit, dan terakhir Pisau Dapur (Tiuk Cenik).
1).Sangkep adalah Rapat adat warga desa tenganan pegringsingan
 
Senjata-senjata tersebut sudah ada sejak desa ini ditemukan dan dibangun. Zaman dulu, bahan dasar pembuatan senjata terbuat dari bahan besi dari Jerman yang tampilannya tidak menarik, akan tetapi didalamnya terkandung nilai filosofi yang sangat kental. Namun saat ini, bahan besi Jerman tidak lagi digunakan. Pandai besi di Desa Tenganan lebih memilih menggunakan bahan besi baja dan pir2 karena lebih mudah ditemukan dan tampilannya lebih memiliki nilai estetika yang tinggi.
Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel atau peperangan, sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda ageman dalam berbusana, memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.
b.    Alat dan Bahan
1.    Prapen
            Prapen merupakan ruangan tempat pembuatan senjata, yaitu bagian penempatan besi. Ruangan ini berukuran 3x2 meter.
                 

2.    Grombongan.
            Grombongan merupakan tungku pemanas besi. Grombongan ini berukuran 1X1 meter.
                   


 
3.    Pemurungan
Alat penghasil angin yang terdiri dari 2 tabung semen. Berfungsi untuk memperbesar panas api dalam grombongan. Pemurungan terhubung langsung dengan grombongamelalui sebuah lubang angin. Cara menghasilkan angin yaitu dengan mendorong tabung dengan kayu pemurungan.

  



                                                     
4.    Blower
Blower merupakan mesin pembuat angin. Fungsinya sama dengan pemurungan, hanya saja menggunakan listrik.


         

5.    Penyulik
Berfungsi untuk mengumpulkan abu/arang dalam grombongan.




6.    Sepit
Berbentuk seperti tang, yang terbuat dari besi. Digunakan untuk mengambil besi yang telah dipanaskan dalam grombongan.




7.    Landasan
            Terbuat dari besi. Digunakan sebagai alas penempaan untuk  besi yang telah dileburkan
                  .
8.    Palu
Alat penempa besi yang telah dipanaskan. Gagangnya terbuat dari kayu, sedangkan mata palu terbuat dari besi baja.



         



9.    Palungan
Bak air kecil yang terbuat dari batu. Besi yang telah ditimpa dengan palu, dicelupkan dalam palungan. Lalu dipanaskan lagi dalam grombongan hingga bentuk besi sesuai dengan bentuk yang diinginkan.




10.  Lundagan
Alas tempat pengikiran. Terdiri atas dua balok bergerigi yang terhubung dengan satu balok panjang. Besi yang akan dikikir diletakkan di atas gerigi tersebut.





11.  Timpas
Alat pembuat Lundagan. Bentuknya seperti kapak, tapi besi timpas berbentuk mirip setengah lingkaran.


 


         


12.  Pengikir
            Berfungsi untuk mengikir atau menghaluskan besi yang selesai ditimpa.
                 



13.  Penyepuh
Silinder besi tempat penyimpanan air garam. Air garam tersebut diambil dengan sabut dengan mencelupkannya dalam penyepuh. Sabut yang telah dicelupkan dioleskan pada besi yang telah ditimpa untuk disepuh.


 





c.     Teknik Pembuatan Senjata        
Senjata yang di gunakan oleh masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan dalam kehidupan sehari-hari  dari dahulu hingga sekarang belum ada perubahan. Secara umum senjata tersebut dibuat secara tradisional menggunakan peralatan sederhana dan dikerjakan tanpa menggunakan peralatan yang digerakkan oleh tenaga listrik.Adapun proses pembuatannya adalah diantaranya:          
1.    Menyiapkan bahan yang digunakan yaitu bahan besi.
2.    Besi disterialkan dulu dari segala macam kotoran termasuk kandungan arang atau karbonnya.
3.     Besi yang telah  ditempa itu dipanaskan hingga merah membara lalu ditempa menggunakan palu berkali-kali, kemudian diceupkan ke dalam air yang ada di palungan. Dipanaskan lagi, ditempa lagi hingga berulang-ulang. Karena dipanaskan dan ditempa secara terus menerus,besi tempa akan semakin memanjang.
4.    Selama penempaan kotoran arang besi (senyawa karbon, silicon dan lain-lain), senyawa-senyawa yang tidak diperlukan dan kotoran lainnya akan memercik keluar sebagai bunga api. Dengan demikian, sedikit demi sedikit besi tempa itu akan semakin berkurang bobotnya.
5.    Setelah di tempa besi itu di masukkan ke dalam palungan, yang bertujuan untuk mendinginkan besi. Dan proses tersebut dilakukan secara berulang-ulang sehingga membentuk secara sempurna.
6.    kemudian besi yang sudah berbentuk seperti senjata diolesi dengan air garam yang ada di dalam penyepuh dan dihaluskan menggunakan pengikir, agar terlihat lebih rata dan rapi.
7.    Setelah pembentukan besi secara sempurna,besi tersebut di tipiskan dengan  yang berisi air dan garam serta di sempuh dengan sabut kelapa. Jika proses penyepuhan berjalan dengan baik,maka selesailah proses pembuatan keris.

d.    Jenis-jenis senjata tradisional Tenganan:
1)    Gandring
Berdasarkan hasil pengamatan, gandering digunakan sebagai pelengkap pakaian saat menghadiri sangkep, dan biasanya diselipkan pada kamen, yang dipakai dipinggang dan letaknya boleh disebelah kanan atau kiri. Senjata ini mempunyai panjang kira-kira satu lengkat3. 

2)    Kadutan
3)..Lengkat = sejengkal kira – kira 10-12 Cm.
 
Senjata yang memiliki panjang lebih kurang 45 cm dan memiliki gerigi di kedua sisi ini digunakan sebagai pelengkap pakaian yang wajib dipakai pada upacara khusus seperti Upacara Pernikahan. Senjata ini dapat diselipkan pada saput yang dililitkan di punggung, tapi ketika memakai kamen, kadutan tersebut diselipkan pada kamen. Biasanya dikenakan oleh laki-laki yang akan menikah.
3)    Tiuk Cenik
Tiuk cenik merupakan salah satu jenis senjata tradisional, yang digunakan untuk membatu kehidupan sehari-hari, seperti, memotong sayur, memotong janur dan benda-benda yang memiliki tekstur yang tidak terlalu keras.
4)    Arit
Senjata ini dipergunakan untuk menyabit rumput, alang-alang dan menyabit daun kelapa.
5)    Golok
Golok adalah senjata tajam yang biasa digunakan oleh masyrakat sekitar untuk keperluan sehari-hari, seperti memotong kayu dan untuk keperluan dapur.
  1. Fungsi Senjata
Terdapat perbedaan fungsi senjata pada zaman dahulu dengan zaman sekarang. Walaupun demikian, senjata pada kalangan masyarakat Tengganan tetaplahadalah sebuah benda yang mepunyai kontribusi besar di beberapa bidang yang bersangkutan, seperti, pelengkap pakaian dan peralatan dapur.
  1.  Perubahan Dalam Teknik Pembuatan dan Pemanfaatan Karya Budaya
Desa Tenganan adalah desa yang penuh dengan seni, yang sampai saat ini masih mempertahankan adat tradisional yang masih berkaitan dengan awig-awig4. Seiring berjalannya waktu, penggunaan senjata tradisional yang digunakan dalam upacara adat di Desa Tenganan cukup memperoleh perubahan, misalnya pada bahan dan alat dalam pembuatan senjata. Sebelumnya, pembuat besi di Desa Tenganan Pegeringsingan ini menggunakan besi Jerman sebagai bahan pembuatannya, namun kini pembuatan beralih menggunakan besi baja dan pir mobil yang dibeli bekas sesuai kebutuhan. Perubahan dalam Teknik Pembuatan tidak begitu signifikan, hanya terdapat perubahan pada motif-motif senjata yang kini motifnya semakin bervariasi. senjata yang berbeda bentuknya akan berbeda pula fungsinya.misalnya gandering dan kadutan berfungsi sebagai simbolisme, walaupun memiliki fungsi yang sama namun,di gunakan pada saat dan tempat yang berbeda. selanjutnya pisau kecil (tiuk cenik)dan pisau besar(golok) berfungsi untuk kegiatan di dapur dan arit atau sabit untuk memangkas rumput.
Sampai saat ini Desa Tenganan hanya mempunyai satu tempat produksi senjata. Uniknya pembuat senjata tidak menjual senjatanya diluar dari Desa Tenganan tetapi masyarakat diluar Desa Tenganan—lah yang memesan langsung ke rumah pembuat senjata. Dalam pembuatan senjata ini terdapat nilai-nilai budaya yang sangat kental, yaitu pemanfaatan senjata tradisional yang kian berkembang dari dulu sampai sekarang tanpa menghilangkan nilai budaya leluhur yang ada di dalamnya.  penerapan  terus berkembang sebagai penerus ciri khas Desa Tenganan yang masih bersifat tradisional dan sangat berpengaruh terhadap kekayaan budaya Desa Tenganan, hal ini dapat dibuktikan dari perang  yang menggunakan pandan berduri sebagai senjatanya dan anyaman ate sebagai perisai simbolis pemanfaatan budaya yang ada.. Maka, senjata sangat identik dengan masyarakat desa yang mempercayai bahwa pelestarian pembuatan senjata tidak akan punah dan akan tetap di lanjutkan kepada setiap pemuda-pemuda di Desa karena merupakan hal wajib untuk mereka. Senjata dibuat sebagai simbolis tetap di kembangkan menjadi fungsi lain sebagai kebutuhan khusus sehari-hari dan






 
BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa masyarakat Tenganan menggunakan senjata tradisional untuk kehidupan sehari-hari, seperti acara keagamaan, memasak, dan juga sebagai salah satu syarat untuk menghadiri undangan rapat desa adat (sangkep).
Bapak I Putu Yudiana optimis bahwa kebudayaan penggunaan keris tidak akan hilang, karena masyarakat Tenganan sangat kental akan kebudayaan penggunaan keris dan adanya awig-awig yang mengatur tentang pemakaian keris. Jika ada salah seorang yang melanggar awig-awig, akan dikenakan sanksi sesuai dengan awig-awig tersebut.

B.    Saran
Berdasarkan hasil kesimpulan yang telah dikemukakan, kami menyarankan sebaiknya pembuat senjata tradisional Tenganan menyediakan senjata yang sudah jadi, sehingga pengunjung yang datang dapat langsung membelinya dan juga sebaiknya orang yang membuat senjata tradisional ini ditambah tenaga kerjanya.

Daftar Informan
1.    I Wayan Madra Pande
Umur   : 60 tahun
Asli      : Tunggak Bebandem
2.    Komang Pande Sulater
Umur   : 33 tahun
Asli      : Tunggak Bebandem

 
BIODATA ANGGOTA TIM
1.    Ernatip, lahir tanggal 21 Januari 1965 di Lima Puluh Kota, Bekerja di BPNB Padang, Alamat E-mail ernatip@gmail.com, HP. 081363465984
2.    Raudatul Agva Zahira, lahir tanggal 13 Januari 1999 di Bukittinggi, Siswi SMAN 2 Lubuk Basung, Alamat E-Mail agvayazem@yahoo.com, HP 081372213210
3.    Frenky Prasetya, lahir tanggal 24 Juni 1996 di Batukambing, Siswa SMAN 2 Lubuk Basung, Alamat E-Mail fprasetya1@gmail.com, HP 081993509127
4.    Zaki Vernando, lahir 14 September 1996 di Balai Tangah, Siswa SMAN 1 Lintau Buo. Alamat E-Mail zaki.vernando@gmail.com, HP 085211200823/081992187008
5.    Ihsan Abdul Jalil, lahir tanggal 14 Februari 1997 di Bukittinggi, Siswa SMAN 2 Padang Panjang. Alamat E-Mail ihsan.j140297@gmail.com, HP 085766281708
6.    Rada Yulianarti, lahir tanggal 22 Juli 1997 di Pondok Suguh, Siswi SMAN 04 Muko-Muko – Bengkulu. HP 081367721027
7.    Tabah Rizki, lahir tanggal 5 Januari 1997 di Lubuk Pinang, Siswa SMAN 5 Muko-Muko – Bengkulu. Alamat E-Mail tabahrizki@gmail.com, HP 085273311585
8.    Tridikno Dasril, lahir tanggal 17 Oktober 1998 di Musi Banyuasin – Sumsel, Siswa SMKN 1 Sekayu – MUBA – Sumsel, Alamat E-Mail trikstudent@gmail.com, HP 081930991414/081278000405
9.    Eka Anggraini, lahir tanggal 27 Maret 1998 di Sekayu – Musi Banyuasin – SumSel, Siswi SMAN 1 Sekayu – MUBA – SumSel, Alamat E-Mail Ekaanggarini411@yahoo.com, HP 089665102297
10.  Ni Putu Wisma Ekawati, lahir tanggal 21 Mei 1997 di Klungkung – Bali, Siswa SMAN 7 Denpasar Bali, Alamat E-Mail wismaeka21@gmail.com, HP 082341128424
11.  Ni Putu Ayu Mariana Purwaningsih, lahir tanggal 30 April 1999 di Denpasar – Bali, Siswi SMAN 7 Denpasar Bali, Alamat E-Mail putu_99@yahoo.com, HP 083117200346
12.  Ni Wayan Dinda Widasuari, lahir tanggal 11 Juli 1998 di Denpasar – Bali, Siswa SMAN 5 Denpasar Bali, Alamat E-Mail dinda.widasuari@yahoo.com, HP 082236621882 






      



Translate